Talkshow bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” menjadi sesi pembuka dalam rangkaian Pesta Media AJI Jakarta 2026. Diskusi ini menghadirkan tiga jurnalis perempuan, yakni Evi Mariani dari salah satu pendiri Project Multatuli, Nany Afrida, Ketua Umum AJI Indonesia, serta Sapariah Saturi, managing editor Mongabay Indonesia.

Dalam forum tersebut, ketiganya membagikan pengalaman soal isu jurnalis perempuan di Indonesia dan bagaimana mereka meliput isu lingkungan dan sosial. Ketiganya menegaskan bahwa krisis iklim tidak semata persoalan ekologis, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang memperlebar ketimpangan, terutama bagi perempuan, masyarakat adat, dan kelompok miskin sebagai pihak yang paling terdampak.

Nany Afrida mengawali pemaparannya dengan menyoroti kondisi jurnalis yang kerap berada di bawah tekanan. Menurutnya, jurnalis perempuan menghadapi tekanan berlapis. Mereka lebih rentan mengalami kekerasan berbasis gender, diskriminasi di ruang redaksi, beban kerja ganda, lemahnya perlindungan kerja, hingga serangan di ruang digital.

Nany juga mengungkapkan bahwa jumlah jurnalis perempuan di Indonesia baru mencapai sekitar 21,5 persen dari total jurnalis. Angka ini mencerminkan adanya ketimpangan struktural dalam industri media. Selain itu, jurnalis perempuan masih kerap menghadapi ketidakadilan dalam hal remunerasi maupun pembagian tugas liputan.

“Diskriminasi ini bersifat sistemik bukan kasus individual jadi harus kita selesaikan bersama-sama. Kekerasan terhadap jurnalis perempuan baik fisik maupun digital juga masih tinggi dan sering dinormalisasikan serta mekanisme di ruang redaksi juga lemah,” kata Nany di ruang Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (11/4/2026).

Pandangan mengenai minimnya jumlah jurnalis perempuan juga disampaikan oleh Sapariah Saturi. Ia menjelaskan bahwa Mongabay Indonesia kerap menghadapi tantangan dalam merekrut jurnalis perempuan, terutama untuk memperkuat perspektif dalam liputan lingkungan, khususnya isu krisis iklim.

Menurutnya, Mongabay mendorong keterlibatan jurnalis perempuan dalam peliputan dampak krisis iklim karena perempuan sering menjadi pihak yang paling terdampak, misalnya di wilayah pesisir. Kehadiran jurnalis perempuan dinilai mampu menembus batas-batas tertentu yang sulit dijangkau jurnalis laki-laki, sehingga menghasilkan liputan yang lebih beragam dan mendalam.

“Jadi, kita bisa mengetahui betapa jahatnya krisis itu ketika perempuan itu percaya dan mau menceritakan terbuka dengan jurnalis perempuan dan itu yang kami lakukan. Kami ingin memperbanyak porsi jurnalis perempuan,” kata Sapariah.

Evi Mariani menekankan pentingnya kehadiran jurnalis perempuan di ruang-ruang yang selama ini didominasi laki-laki. Ia menilai, kontribusi jurnalis perempuan mampu menghadirkan sudut pandang baru yang memperkaya liputan, terutama pada isu-isu yang sebelumnya luput dari perhatian.

Selama ini, jurnalis perempuan dinilai berhasil menjangkau narasumber yang tidak dapat diakses oleh jurnalis laki-laki. Salah satu contohnya adalah peliputan mengenai baby blues yang dialami ibu pasca melahirkan. Menurutnya, isu tersebut kerap tidak terpikirkan oleh jurnalis laki-laki karena tidak dekat dengan pengalaman mereka.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran perempuan dalam dunia jurnalisme sangat penting untuk mengangkat berbagai pengetahuan yang sebelumnya tidak terekspos, baik karena keterbatasan akses terhadap sumber maupun kurangnya kepekaan terhadap isu-isu perempuan.

“Pada akhirnya perspektif itu harus diperkaya, dan wawasan harus diperluas. Demikian juga ketika kami mendorong jurnalis perempuan, fotografer perempuan, bukan karena dia sebagai checklist tapi karena kami makin percaya jika ada perempuan yang sudah punya kesadaran gender mampu memberikan perspektif yang beda yang selama ini enggak pernah didengar atau dilihat,” ujar Evi. *

Acara Pesta Media

Disponsori oleh: ABC Australia, ABC Internasional Development, IESR, KINETIK, Konservasi Indonesia, ICEL, YIARI, GEOPIX, Aliansi Zero Waste Indonesia, Diet Plastik Indonesia, Satya Bumi, Kehati, Greenpeace, PUSAKA, AEER, Burung Indonesia, Plan Indonesia, ASEAN Center For Biodiversity.

Media Partner: Kompas.id, Tempo, Inews, Narasi, BBC News Indonesia, Publika Lab, Pandangan Jogja, Koreksi.org, SinPo Tv, Independent.id, Tirto.id, Katadata.co.id, Bisnis Indonesia, Suara.com, Deduktif.id, Progresip, Betahita, Ekuatorial, Jaring, Prohealth.id, Konde.co, Magdalene, Project Multatuli, Suar.id, Daai TV, dan Greeners.co.

Kolaborator dan Didukung oleh: AJI Indonesia, LBH Pers, Indonesian Institute of Journalism, KojI, DW, Mongabay, Garda Animalia, Politeknik Tempo, Universitas Bakrie, Universitas Kristen Indonesia, Institut Media Digital Emtek, MNC University, dan Uhamka. Acara ini juga didukung oleh Jakpro, Taman Ismail Marzuki, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank BTN, Se’Indonesia, Goto, PAM Jaya, Hokben, dan RS Persahabatan.