
Jakarta — Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) besama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menggelar talkshow diseminasi buku Keluar dari Bayang-Bayang: Mengungkap dan Melawan Perdagangan Ilegal Kukang Indonesia pada Sabtu, 11 April 2026, pukul 12.30–14.30 WIB di Ruang Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian Pesta Media AJI Jakarta 2026 yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta ini mengusung tema “Keluar dari Bayang-bayang: Strategi Kolaboratif Menghentikan Perdagangan Kukang” dan ditujukan untuk menyampaikan temuan YIARI kepada publik dan pemangku kepentingan lintas sektor.
Talkshow ini menjadi katalis untuk memperluas dampak buku yang mendokumentasikan lebih dari satu dekade upaya konservasi kukang di Indonesia dengan pendekatan holistik. Buku ini menunjukkan bahwa perdagangan kukang menurun melalui pendekatan holistik yang menggabungkan penegakan hukum, penyediaan pusat penyelamatan, serta edukasi publik yang dijalankan secara konsisten.
Temuan dalam buku memperlihatkan bahwa perdagangan kukang berlangsung baik di pasar hewan maupun di ruang digital. Dari 73 pasar hewan yang disurvei, 18 pasar tercatat memperdagangkan 1.363 individu kukang. Sementara itu, pemantauan perdagangan daring menemukan sedikitnya 469 grup Facebook yang dipantau secara rutin, dengan ribuan unggahan terkait jual beli kukang.

Buku ini juga menegaskan bahwa penurunan perdagangan tidak terjadi dengan sendirinya. Sepanjang 2012–2022, tercatat 111 kasus penegakan hukum yang melibatkan penyitaan 1.271 kukang. Lebih dari setengahnya berujung pada penahanan tersangka yang berlanjut hingga vonis pengadilan. Data ini menunjukkan bahwa penegakan hukum yang kuat berkontribusi nyata terhadap penyusutan ruang perdagangan terbuka bagi kukang.
Selain penegakan hukum, buku ini menunjukkan pentingnya dukungan terhadap penanganan satwa sitaan. Antara 2008 hingga 2022, YIARI menerima 1.342 individu kukang di pusat penyelamatannya. Fasilitas ini menjadi bagian penting dari respons konservasi, karena satwa hasil penyitaan, serahan masyarakat, maupun penyelamatan lainnya membutuhkan penanganan medis, rehabilitasi, dan perawatan jangka panjang.
Dr. Karmele Sánchez, CEO YIARI, menekankan pentingnya pusat penyelamatan dan rehabilitasi ini dalam upaya konservasi kukang. “YIARI lahir dari kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan kukang, satwa yang menjadi korban perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan ilegal. Sejak awal, kami menyadari bahwa upaya penyelamatan saja tidak cukup. Jika akar permasalahan tidak diselesaikan, maka siklus ini akan terus berulang dan pusat rehabilitasi hanya akan menjadi tempat penampungan tanpa akhir. Karena itu, kami mengembangkan pendekatan konservasi yang holistik. Intinya dimulai dari tiga tahapan kunci: penyelamatan (rescue), rehabilitasi (rehab), dan pelepasliaran (release). Tiga proses ini bukan sekadar terhadap kejahatan terhadap satwa liar, tetapi juga fondasi utama dalam memastikan individu yang diselamatkan dapat kembali hidup liar secara aman dan layak. Namun, upaya ini tidak berhenti di situ. Pendekatan kami diperkuat melalui penegakan hukum serta edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat. Hanya dengan menggabungkan seluruh elemen ini, kita bisa benar-benar memutus rantai kejahatan terhadap satwa liar dan melindungi kukang di habitat alaminya.”
Perubahan persepsi publik juga menjadi bagian penting dari capaian ini. Antara 2012 dan 2022, terkumpul 1.866 artikel berita tentang kukang, terdiri dari 621 artikel mengenai penegakan hukum dan 1.245 artikel mengenai penyelamatan, translokasi, dan edukasi. Di Instagram, pada 2015 sebanyak 90% unggahan tentang kukang masih menampilkan satwa ini sebagai peliharaan atau mempromosikan perdagangan. Namun, pada 2022, konten positif dan informatif mendominasi 97% unggahan, sementara konten negatif turun menjadi 3%. Pergeseran ini menunjukkan bahwa edukasi dan komunikasi publik dapat membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap kukang, dari satwa peliharaan eksotik menjadi satwa liar yang harus dilindungi.

Silverius Oscar Unggul, Ketua YIARI sekaligus Penasihat Utama Menteri Kehutanan RI, menegaskan bahwa buku ini bukan hanya dokumentasi, melainkan dasar penting untuk memperkuat aksi bersama.
“Perdagangan ilegal kukang tidak bisa dilawan dengan satu pendekatan saja. Dari buku ini kita bisa tahu bahwa perubahan nyata bisa terjadi ketika penegakan hukum, penyelamatan satwa, edukasi publik, dan kolaborasi lintas sektor berjalan beriringan. Melalui diseminasi ini, kami ingin mendorong agar temuan-temuan tersebut tidak berhenti sebagai laporan, tetapi menjadi pijakan bersama untuk memperkuat kebijakan, penegakan hukum, dan kesadaran publik dalam melindungi kukang Indonesia,” ujar Silverius.
Kegiatan diseminasi ini juga dirancang untuk membangun dialog yang lebih luas dengan para penanggap dari Direktur Penindakan Pidana Kehutanan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan RI, Rudianto Saragih Napitupulu, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen, Nani Afrida, serta CEO YIARI, Karmele L. Sanchez. Forum ini diharapkan memperkuat pemahaman publik dan jurnalis, membangun jejaring kolaboratif lintas sektor, serta mendorong rekomendasi berbasis data bagi kebijakan konservasi dan penegakan hukum ke depan.
Melalui talkshow ini, YIARI ingin menegaskan bahwa menghentikan perdagangan ilegal kukang bukan hal yang mustahil. Buku Keluar dari Bayang-Bayang menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang kuat, ancaman terhadap kukang dapat ditekan. Diseminasi ini menjadi langkah penting untuk memastikan temuan tersebut menjangkau lebih banyak pihak dan diterjemahkan menjadi tindakan nyata bagi perlindungan satwa liar Indonesia.
Buku Keluar dari Bayang-Bayang diakses pada tautan berikut:
Versi Bahasa Indonesia: https://s.id/Kukang
Versi Bahasa Inggris: https://s.id/Slowloris
—
Tentang YIARI
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia.
Tentang Pesta Media AJI Jakarta 2026
Pesta Media AJI Jakarta 2026 merupakan acara yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI Jakarta) pada tanggal 11-12 April 2026, di Taman Ismail Marzuki, yang memadukan talkshow, lokakarya, pemutaran film, hingga penampilan seni dan budaya. Pesta Media AJI Jakarta menjadi wadah untuk merekatkan kembali kolaborasi lintas sektor dalam memperjuangkan demokrasi. Isu yang diangkat kali ini adalah krisis lingkungan hidup dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai dua isu yang saling berkelindan dan kian menentukan masa depan jurnalisme di Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
YIARI: +62 821-5346-2720 (Heribertus Suciadi, Senor Manager Media dan Komunikasi YIARI)

