Jakarta, – Membangun kesadaran kolektif soal pentingnya tata kelola kehutanan menjadi aspek yang perlu terus ditingkatkan. Apalagi, belakangan ini isu lingkungan dan kehutanan tengah menjadi sorotan usai bencana banjir melumpuhkan beberapa daerah di Pulau Sumatra. 

Selain lewat ruang-ruang formal, kesadaran kolektif dan ekspresi masyarakat pun bisa disuarakan melalui media-media kreatif. Pertanyaannya, bagaimana cara menyuarakannya secara unik dan inovatif?

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menggelar lokakarya membuat zine, sebuah medium alternatif yang umumnya tampak seperti kompilasi potongan gambar dan teks dari berbagai sumber. Lebih dari 20 orang terpilih diajak membuat kompilasi mini zine, yang nantinya akan dijadikan bunga rampai versi digital. Kreasi mini zine itu memuat kritikan dan ekspresi peserta terhadap situasi tata kelola kehutanan di negeri ini.  

Lokakarya ini merupakan bagian dari Pesta Media AJI Jakarta yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (12/4/2026).

Kinanti Munggareni, fasilitator acara yang berasal dari CIVIC Toolkit, mengatakan zine akan membuka ruang buat kita menyuarakan apapun. Acara semacam ini dinilai bisa lebih mendekatkan imajinasi soal hutan, termasuk dampak kehilangan hutan akibat deforestasi. 

“Kenapa zine di Pesta Media? Karena kayaknya zine akan membuka ruang buat kita untuk bisa bikin apapun. Enggak usah mikir kalau nulis ini enggak boleh sama pemred, kurang clickbait. Kalau lewat zine banyak hal yang bisa kita ceritakan,” kata perempuan yang akrab disapa Kimung itu.

Kimung menambahkan, melalui media zine, anak muda bisa lebih memahami aturan-aturan seputar kehutanan yang kompleks dan rumit.

“Misal data kurang lengkap soal hutan, ya sudah tulis saja yang teringat, terlontar, dan enggak disensor kepala langsung,” imbuhnya.

Puluhan peserta dibagi menjadi empat kelompok. Mereka diajak membuat zine dengan topik utama “Imajinasi Dunia tanpa Hutan”. Beberapa peserta mengulas tentang deforestasi yang teringat dari sebuah film atau video tentang hutan, hingga mimpi soal hutan itu sendiri. Sementara kelompok yang lain membuat zine berangkat dari kisah-kisah masyarakat adat dari Papua yang turut hadir, dan masyarakat adat dari Mentangai Hulu, Kalimantan Tengah, yang dihubungi via telepon.

Salah satu peserta, Derry, menggambarkan betapa pentingnya hutan bagi umat manusia. “Urusan kehutanan ini bukan buat kaum tertentu, tetapi kita semua harus ikut menyuarakan meski kita tinggal di kota atau Jakarta. Kalau kita acuh, kita berkontribusi terhadap degradasi hutan,” katanya.

Peserta lainnya, Asoka, menyuarakan banyaknya kerusakan hutan di negeri ini. Indonesia yang memiliki hutan terluas ketiga di dunia, semestinya dijaga dengan baik. “Di Indonesia yang banyak sawit dan hutan, tetapi hutannya malah rusak,” sesalnya.

Kritik tentang tata kelola hutan juga disuarakan Masyafiq melalui bingkai zine. Dia menceritakan keadaan hutan yang dulunya luas dan rimbun, tiba-tiba hilang oleh industri ekstraktif.

“Ceritanya keadaan hutan, kemudian ada yang menumbang-numbangin pohon menjadi industri. Jadi climate. Orangnya bingung. Jadinya orang pada saling menyalahkan,” ujarnya.

Decmonth Nuel P., Peneliti dari ICEL, menyebut lokakarya membuat zine ini merupakan yang pertama digelar sejak lembaganya berdiri pada 1993. 

Dia mengatakan topik mengenai hutan penting untuk diangkat di tengah agenda pemerintah yang berencana merevisi Undang-Undang Kehutanan. Melalui karya zine, dia berharap isu tentang hutan biasa disuarakan dengan lebih kreatif.

“Karena tahun lalu ada bencana banjir di Sumatra, ini mengingatkan bahwa hutan kita sedikit banget,” kata dia.

Decmonth mengatakan, ICEL bersama lembaga masyarakat sipil lainnya aktif mengawal agenda revisi Undang-Undang Kehutanan supaya lebih berkeadilan dan tidak malah merampas hak hidup masyarakat adat.

ICEL merupakan organisasi non-pemerintah yang bekerja untuk terwujudnya keadilan lingkungan yang berbasis nilai-nilai demokrasi, HAM, keadaban, keberlanjutan, negara hukum (rule of law), dan tata kelola pembangunan berkelanjutan yang baik (good sustainable development governance). Dalam menjalankan cita-cita tersebut, ICEL menjalankan advokasinya melalui penelitian, pengembangan kapasitas, advokasi kasus dan pengelolaan pengetahuan. Kerja-kerja pembaharuan ICEL dilakukan dengan berbasiskan bukti ilmiah.

ICEL ikut berkontribusi dalam acara Pesta Media AJI Jakarta 2026 pada tanggal 11-12 April 2026 di Taman Ismail Marzuki. Acara ini memadukan diskusi, lokakarya, pemutaran film, hingga penampilan seni dan budaya.

Pesta Media AJI Jakarta menjadi wadah untuk merekatkan kembali kolaborasi lintas sektor dalam memperjuangkan demokrasi. Isu yang diangkat kali ini adalah krisis lingkungan hidup dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai dua isu yang saling berkelindan dan kian menentukan masa depan jurnalisme di Indonesia.

***