- This event has passed.
Mobile Journalism
Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah tropis dikaruniai kekayaan keanekaragaman hayati dan tingkat endemisitas yang sangat tinggi. Dari kelompok burung saja, hingga Januari 2026 tercatat 1.834 spesies burung di Indonesia, dengan 538 spesies di antaranya merupakan burung endemis, yang menunjukkan tingginya nilai keanekaragaman hayati nasional.
Namun demikian, pemanfaatan tidak berkelanjutan dan praktik ilegal masih terjadi, sementara eksploitasi berlebih dan alih fungsi habitat terus mengancam kelestarian keanekaragaman hayati dan menurunkan daya dukung ekosistem. Hal ini juga terjadi di banyak negara biodiversity hotspot; spesies dan habitat alami mengalami tekanan kepunahan yang semakin tinggi. Secara global, hampir dua juta jenis tumbuhan dan satwa mengalami ancaman kepunahan ketika 75% daratan telah terdampak serius oleh aktivitas manusia. Pesisir dan laut juga tidak luput dari eksploitasi dan pemanfaatan berlebih yang mengancam keberlanjutan.
Punahnya keanekaragaman hayati bukan hanya kehilangan tumbuhan dan satwa tertentu, melainkan berkurangnya kualitas dan kuantitas jasa lingkungan, seperti penyerbukan serta pengendalian iklim dan pengurangan risiko bencana. Ekosistem yang sehat seperti hutan, lahan basah, dan terumbu karang menyerap karbondioksida dari atmosfer secara signifikan, karenanya menjadi solusi alami bagi pemanasan global. Untuk mengatasi krisis iklim dan kemerosotan kehati, dunia bergantung pada peran ekosistem alami yang sehat.
Sebagai respons, komunitas global telah menyepakati Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF) tahun 2022. Pemerintah Indonesia mengadopsinya melalui Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, yang menekankan perlindungan ekosistem, spesies, dan genetik; pemanfaatan berkelanjutan; serta penguatan tata kelola dan pengelolaan untuk diimplementasikan hingga tingkat tapak secara lintas-sektor dalam pembangunan. Kekayaan keanekaragaman hayati, apabila dikelola secara optimal, mendukung keberlanjutan ekosistem sekaligus kesejahteraan manusia.
Dalam konteks ini, jurnalis memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan kesadaran public terhadap nilai penting keanekaragaman hayati, mengangkat isu-isu kritis terkait kelestarian habitat, serta menginspirasi aksi kolektif publik melalui penyebarluasan praktik baik pelestarian oleh masyarakat. Jurnalis tak sekadar pewarta, melainkan garda depan dalam menumbuhkan dan menggerakkan kesadaran kritis.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bergerak sejak 1994 dan memiliki sejarah panjang dalam membangun kesadaran kritis publik. Salah satunya melalui kegiatan Festival Media pada 11-12 Maret 2026 di Jakarta, yang akan dihadiri oleh jejaring media dan jurnalis anggota AJI pada 35 daerah di Indonesia. Festival Media bertujuan memberikan ruang interaksi bagi jurnalis, media, dan publik. Melalui kegiatan ini, AJI membuka ruang kolaborasi bagi berbagai pihak untuk memperkuat peran media dalam isu-isu strategis.
Burung Indonesia hendak mendukung kegiatan tersebut, terutama untuk peningkatan kapasitas jurnalis dalam memahami isu keanekaragaman hayati secara komprehensif, promosi praktik baik konservasi yang inklusif dan berbasis hak, sekaligus menjajaki kolaborasi dengan jejaring jurnalis AJI dalam upaya pengarusutamaan keanekaragaman hayati di media.
Salah satu metode peliputan yang bisa digunakan adalah mobile journalism yang mengedepankan pendekatan visual dan bisa diterapkan secara mandiri oleh wartawan yang bertugas meliput isu ini.
Burung Indonesia, organisasi pelestarian burung liar dan habitatnya yang berdiri sejak 2002, telah mengimplementasikan berbagai model pendekatan konservasi berbasis komunitas di sejumlah bentang alam penting, khususnya di wilayah Pulau Jawa dan bio-region Wallacea (Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku). Burung Indonesia meyakini bahwa upaya mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan pendekatan pelestarian (konservasi) yang holistik, berbasis hak dan inklusif. Konservasi tidak hanya berfokus pada spesies tertentu dan perlindungannya, melainkan juga pemanfaatan berkelanjutan dan pengelolaan yang bijak mulai dari tingkat spesies, habitat, hingga ekosistemnya untuk menunjang keberlanjutan.
Narasumber: Andy ‘Dio’ Muhyiddin
