BEGIN:VCALENDAR
VERSION:2.0
PRODID:-//Pesta Media AJI Jakarta - ECPv6.15.18//NONSGML v1.0//EN
CALSCALE:GREGORIAN
METHOD:PUBLISH
X-ORIGINAL-URL:https://pestamedia.id
X-WR-CALDESC:Events for Pesta Media AJI Jakarta
REFRESH-INTERVAL;VALUE=DURATION:PT1H
X-Robots-Tag:noindex
X-PUBLISHED-TTL:PT1H
BEGIN:VTIMEZONE
TZID:Asia/Jakarta
BEGIN:STANDARD
TZOFFSETFROM:+0700
TZOFFSETTO:+0700
TZNAME:WIB
DTSTART:20250101T000000
END:STANDARD
END:VTIMEZONE
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260412T150000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260412T163000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T181802Z
LAST-MODIFIED:20260408T194613Z
UID:236-1776006000-1776011400@pestamedia.id
SUMMARY:Beyond Crisis: Mengapa Media Perlu Mengangkat Solusi Iklim Kaum Muda
DESCRIPTION:Di berbagai wilayah Indonesia\, kaum muda telah memimpin inisiatif berbasis komunitas. Mulai dari konservasi lingkungan\, edukasi iklim\, hingga inovasi teknologi yang relevan dengan konteks lokal. \nMereka bekerja di garis depan\, sering kali dengan sumber daya terbatas\, untuk menghadirkan solusi nyata yang berdampak langsung bagi sekitarnya. Karena kaum muda lah yang akan hidup paling lama dengan dampak krisis iklim. \nDalam PechaKucha ini\, kami mengajak untuk melihat lebih dekat bagaimana kaum muda Indonesia dari wilayah rural di Nusa Tenggara Timur hingga urban di Jakarta\, bertahan dari krisis iklim dan menciptakan solusi yang relevan. Sebab setiap inisiatif yang dipimpin kaum muda bukan hanya cerita inspiratif\, tetapi juga bagian dari jawaban atas krisis yang kita hadapi bersama. \n  \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/beyond-crisis-mengapa-media-perlu-mengangkat-solusi-iklim-kaum-muda/
LOCATION:Teater Wahyu Sihombing
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260412T134500
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260412T150000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T181217Z
LAST-MODIFIED:20260408T194955Z
UID:226-1776001500-1776006000@pestamedia.id
SUMMARY:Workshop Membuat Zine
DESCRIPTION:Isu lingkungan hidup\, utamanya hutan menyedot atensi publik ketika sejumlah provinsi di Sumatera tenggelam oleh banjir\, hingga menyebabkan kematian dan hancurnya ruang hidup warga\, satwa\, dan tumbuhan. Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) memandang bencana hidrometeorologis yang melanda Aceh\, Sumatera Utara\, dan Sumatera Barat akhir tahun lalu itu sebagai akumulasi dari kerusakan hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) dan cuaca ekstrem. \n  \nSeiring dengan bencana Sumatera yang belum sepenuhnya pulih\, beleid yang mengatur isu kehutanan pun tengah dibahas oleh parlemen. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (UU Kehutanan) kini akan diubah seiring masuknya RUU tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Revisi UU Kehutanan) ke dalam Daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) prioritas DPR RI. \n  \nPembahasan Revisi UU Kehutanan tersebut tentu menjadi suatu momentum dalam mendorong penguatan penegakan hukum kehutanan di level undang-undang. Sebab\, penegakan hukum kehutanan yang kuat pada akhirnya akan berkontribusi terhadap penguatan tata kelola kehutanan secara umum.  \n  \nBerbagai permasalahan mulai dari alih fungsi hutan\, konflik hutan dan lahan\, pelanggaran perizinan dan kejahatan kehutanan akan dapat dicegah dan ditangani dengan adanya instrumen penegakan hukum yang memadai. Lebih jauh\, penegakan hukum juga menjadi krusial dalam mendukung dan memastikan pencapaian target FOLU Net Sink 2030 sebagai agenda prioritas pemerintah dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.   \n  \nSelain lewat diskusi-diskusi formal\, kesadaraan akan pentingnya penguatan penegakan hukum kehutanan perlu dibangun lewat cara advokasi kreatif agar bisa menjangkau audiens yang lebih luas. Isu ini memerlukan partisipasi aktif warga secara bermakna\, terutama anak muda yang saat ini menaruh perhatian lebih pada isu lingkungan. \n  \nGenerasi muda di Indonesia terbukti lebih peduli isu lingkungan dan memiliki literasi perubahan iklim yang memadai. Selain itu\, aktivisme iklim di Indonesia juga terlihat meningkat\, meski masih relatif sepi dibanding negara-negara maju. Oleh karenanya aktivisme iklim anak muda jadi ujung tombak untuk mendesak pemerintah dan mengawal kebijakan lingkungan. \n  \nFasilitator: \n\nCivic Toolkit\, part of Proyek Dekolonial\n\n  \nOutput: \n\nMini zine yang dibuat masing-masing peserta\nKompilasi mini zine menjadi bunga rampai\nPublikasi bunga rampai lewat media sosial Pesta Media dan ICEL\n\n 
URL:https://pestamedia.id/event/membuat-zine/
LOCATION:Promenade
CATEGORIES:Workshop
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260412T134500
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260412T150000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T180750Z
LAST-MODIFIED:20260408T195605Z
UID:224-1776001500-1776006000@pestamedia.id
SUMMARY:Dari Pemberitaan ke Aksi Nyata: Bagaimana Membuat Liputan Lingkungan Lebih Berdampak
DESCRIPTION:Liputan terkait isu lingkungan hidup di Indonesia menghadapi tantangan berlapis. Sebagian besar media arus utama berpusat di Jakarta\, sementara banyak persoalan lingkungan justru terjadi jauh dari pusat perhatian: Sumatera\, Kalimantan\, Sulawesi\, hingga Papua. Kondisi ini membuat peliputan membutuhkan waktu\, biaya\, dan energi lebih besar. \n  \nDi sisi lain\, isu lingkungan kerap menuntut kerja jurnalistik yang tidak sederhana seperti riset panjang\, verifikasi data\, serta kesiapan menghadapi risiko keselamatan di lapangan. Dalam kondisi seperti ini\, tidak banyak media yang mampu meliput isu lingkungan secara mendalam dan utuh dan relevan. Karena itu\, peran CSO\, aktivis\, dan akademisi sering menjadi penopang penting\, baik untuk membantu pembacaan data maupun memahami konteks masalah yang kompleks. \n  \nNamun tantangan media dalam memberitakan isu lingkungan tidak berhenti ketika berita terbit. Sebab\, isu lingkungan sering dianggap kurang “seksi” dibanding persoalan politik atau isu viral harian. Akibatnya\, banyak liputan lingkungan berhenti di tahap publikasi dan tidak berlanjut menjadi percakapan publik\, tidak memicu tindak lanjut kebijakan\, dan tidak mendorong perubahan nyata\, terutama untuk isu-isu yang bersifat lokal tapi  seperti dampak tambang nikel di Sulawesi\, deforestasi di Papua\, atau kerusakan terumbu karang akibat aktivitas tongkang batu bara. \n  \nPadahal\, pengalaman global menunjukkan bahwa peliputan isu lingkungan\, termasuk yang menggunakan metode investigas\, bisa diukur dampaknya. Global Investigative Journalism Network (GIJN) mencatat setidaknya empat indikator dampak liputan: perubahan nyata di lapangan\, amplifikasi oleh media lain\, keterlibatan audiens\, dan pengaruh terhadap debat publik. Dalam isu lingkungan\, dampak dapat terlihat ketika liputan berujung pencabutan izin\, penghentian aktivitas yang merusak lingkungan\, hingga proses hukum terhadap praktik kejahatan terhadap lingkungan. \n  \nTalkshow ini dirancang untuk menggali pengalaman media dalam hal sejauh mana liputan lingkungan yang mereka hasilkan berdampak pada subjek berita\, publik\, dan kebijakan.  \n  \nNarasumber: \nHeychael\, Peneliti Remotivi\nIntan Febriani\, Pulitzer Center\nHanif Faisol Nurofiq\, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia (dalam konfirmasi)\nDr. Ketut Wica Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Prov. Bali\, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali  (dalam konfirmasi) \n  \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/bagaimana-membuat-liputan-lingkungan-lebih-berdampak/
LOCATION:Studio Tari Tradisi
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260412T130000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260412T143000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T181306Z
LAST-MODIFIED:20260410T071223Z
UID:229-1775998800-1776004200@pestamedia.id
SUMMARY:Transisi Energi yang Melukai:  Ekspansi Nikel dan Masa Depan Pesisir serta Pulau-Pulau Kecil Nusantara
DESCRIPTION:Transisi energi global seharusnya menjadi jalan menuju masa depan rendah karbon yang berkeadilan. Namun dalam praktiknya\, dorongan percepatan hilirisasi mineral kritis\, khususnya nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik\, justru memunculkan paradoks baru\, yakni transisi energi yang bertumpu pada ekspansi ekonomi ekstraktif di wilayah-wilayah rentan ekologis\, terutama pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia. \nIndonesia memiliki ribuan pulau kecil yang menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati laut\, kawasan terumbu karang\, mangrove\, padang lamun\, serta menjadi ruang hidup masyarakat adat dan komunitas pesisir. Indonesia Environmental Outlook (2026) Yayasan KEHATI mencatat\, desa-desa yang berbatasan laut mencapai 14\,88% dari total desa (atau sekitar 10.537 desa)\, menunjukkan tingginya keterhubungan antara keberlanjutan ekosistem pesisir-laut dengan ekonomi masyarakat. Kerusakan ekosistem di wilayah ini akan berdampak langsung pada penghidupan jutaan warga\, ketahanan pangan pesisir\, dan resiliensi iklim nasional. \nNamun\, tren yang berkembang justru menunjukkan ekspansi tambang nikel ke wilayah pesisir dan pulau kecil\, termasuk di Pulau Kabaena\, Sulawesi Tenggara. Temuan Satya Bumi menunjukkan terdapat 16 izin usaha pertambangan dengan total konsesi 37.894\,05 hektare\, hampir setengah luas Pulau Kabaena\, dan sebagian bertumpang tindih dengan kawasan lindung. Limpasan sedimen ke laut telah merusak terumbu karang\, mengubah warna perairan menjadi merah\, memperjauh jarak tangkap nelayan Bajau\, serta memicu risiko kesehatan akibat paparan logam berat. \nDi tengah narasi besar transisi energi\, kondisi ini menegaskan bahwa Indonesia menghadapi risiko “transisi semu”\, yakni perubahan sistem energi yang secara emisi tampak progresif tetapi secara sosial-ekologis justru memindahkan beban kerusakan ke komunitas rentan dan bentang alam bernilai tinggi. Karena itu\, ruang diskusi publik menjadi penting untuk membedah ulang arah kebijakan transisi energi\, tata kelola mineral kritis\, perlindungan laut dan pulau kecil\, serta memastikan kebijakan berkenaan dengan laut\, pesisir\, dan pulau-pulau kecial tidak dibangun di atas pengorbanan masyarakat pesisir. \nAliansi Jurnalis Independen (AJI)\, Yayasan KEHATI\, dan Satya Bumi berkolaborasi menyelenggarakan diskusi publik bertema “Transisi Energi dan Masa Depan Pesisir serta Pulau-pulau Kecil Nusantara” pada 12 April 2026. Diskusi ini diharapkan menjadi ruang temu antara data\, pengalaman warga\, pendampingan dan advokasi masyarakat pesisir\, perspektif hukum laut\, dan advokasi media guna memperkuat kesadaran publik serta mendorong perubahan kebijakan yang lebih adil. \n  \nNarasumber: \nDhany Alfalah\, Juru Kampanye Satya Bumi\nDr. Rony Megawanto\, Direktur Program Yayasan KEHATI\nStephanie Juwana\, Direktur Program Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) \nTautan Registrasi\n 
URL:https://pestamedia.id/event/transisi-energi-yang-melukai-ekspansi-nikel-dan-masa-depan-pesisir-serta-pulau-pulau-kecil-nusantara/
LOCATION:Teater Wahyu Sihombing
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260412T120000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260412T133000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T180411Z
LAST-MODIFIED:20260408T200532Z
UID:217-1775995200-1776000600@pestamedia.id
SUMMARY:Mobile Journalism
DESCRIPTION:Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah tropis dikaruniai kekayaan keanekaragaman hayati dan tingkat endemisitas yang sangat tinggi. Dari kelompok burung saja\, hingga Januari 2026 tercatat 1.834 spesies burung di Indonesia\, dengan 538 spesies di antaranya merupakan burung endemis\, yang menunjukkan tingginya nilai keanekaragaman hayati nasional. \nNamun demikian\, pemanfaatan tidak berkelanjutan dan praktik ilegal masih terjadi\, sementara eksploitasi berlebih dan alih fungsi habitat terus mengancam kelestarian keanekaragaman hayati dan menurunkan daya dukung ekosistem. Hal ini juga terjadi di banyak negara biodiversity hotspot; spesies dan habitat alami mengalami tekanan kepunahan yang semakin tinggi. Secara global\, hampir dua juta jenis tumbuhan dan satwa mengalami ancaman kepunahan ketika 75% daratan telah terdampak serius oleh aktivitas manusia. Pesisir dan laut juga tidak luput dari eksploitasi dan pemanfaatan berlebih yang mengancam keberlanjutan. \nPunahnya keanekaragaman hayati bukan hanya kehilangan tumbuhan dan satwa tertentu\, melainkan berkurangnya kualitas dan kuantitas jasa lingkungan\, seperti penyerbukan serta pengendalian iklim dan pengurangan risiko bencana. Ekosistem yang sehat seperti hutan\, lahan basah\, dan terumbu karang menyerap karbondioksida dari atmosfer secara signiﬁkan\, karenanya menjadi solusi alami bagi pemanasan global. Untuk mengatasi krisis iklim dan kemerosotan kehati\, dunia bergantung pada peran ekosistem alami yang sehat. \nSebagai respons\, komunitas global telah menyepakati Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF) tahun 2022. Pemerintah Indonesia mengadopsinya melalui Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045\, yang menekankan perlindungan ekosistem\, spesies\, dan genetik; pemanfaatan berkelanjutan; serta penguatan tata kelola dan pengelolaan untuk diimplementasikan hingga tingkat tapak secara lintas-sektor dalam pembangunan. Kekayaan keanekaragaman hayati\, apabila dikelola secara optimal\, mendukung keberlanjutan ekosistem sekaligus kesejahteraan manusia. \nDalam konteks ini\, jurnalis memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan kesadaran public terhadap nilai penting keanekaragaman hayati\, mengangkat isu-isu kritis terkait kelestarian habitat\, serta menginspirasi aksi kolektif publik melalui penyebarluasan praktik baik pelestarian oleh masyarakat. Jurnalis tak sekadar pewarta\, melainkan garda depan dalam menumbuhkan dan menggerakkan kesadaran kritis.  \nAliansi Jurnalis Independen (AJI) bergerak sejak 1994 dan memiliki sejarah panjang dalam membangun kesadaran kritis publik. Salah satunya melalui kegiatan Festival Media pada 11-12 Maret 2026 di Jakarta\, yang akan dihadiri oleh jejaring media dan jurnalis anggota AJI pada 35 daerah di Indonesia. Festival Media bertujuan memberikan ruang interaksi bagi jurnalis\, media\, dan publik. Melalui kegiatan ini\, AJI membuka ruang kolaborasi bagi berbagai pihak untuk memperkuat peran media dalam isu-isu strategis. \nBurung Indonesia hendak mendukung kegiatan tersebut\, terutama untuk peningkatan kapasitas jurnalis dalam memahami isu keanekaragaman hayati secara komprehensif\, promosi praktik baik konservasi yang inklusif dan berbasis hak\, sekaligus menjajaki kolaborasi dengan jejaring jurnalis AJI dalam upaya pengarusutamaan keanekaragaman hayati di media. \nSalah satu metode peliputan yang bisa digunakan adalah mobile journalism yang mengedepankan pendekatan visual dan bisa diterapkan secara mandiri oleh wartawan yang bertugas meliput isu ini. \nBurung Indonesia\, organisasi pelestarian burung liar dan habitatnya yang berdiri sejak 2002\, telah mengimplementasikan berbagai model pendekatan konservasi berbasis komunitas di sejumlah bentang alam penting\, khususnya di wilayah Pulau Jawa dan bio-region Wallacea (Sulawesi\, Nusa Tenggara\, Maluku). Burung Indonesia meyakini bahwa upaya mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan pendekatan pelestarian (konservasi) yang holistik\, berbasis hak dan inklusif. Konservasi tidak hanya berfokus pada spesies tertentu dan perlindungannya\, melainkan juga pemanfaatan berkelanjutan dan pengelolaan yang bijak mulai dari tingkat spesies\, habitat\, hingga ekosistemnya untuk menunjang keberlanjutan.  \n  \nNarasumber: Andy ‘Dio’ Muhyiddin \n  \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/mobile-journalism/
LOCATION:Studio Tari Tradisi
CATEGORIES:Workshop
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260412T113000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260412T130000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T180538Z
LAST-MODIFIED:20260410T073010Z
UID:220-1775993400-1775998800@pestamedia.id
SUMMARY:Screening Film: Pesta Babi
DESCRIPTION:Yasinta Moiwend kaget ketika pada suatu pagi yang tenang di bulan Mei\, sebuah kapal raksasa\nbersandar di dermaga kampungnya. Kapal itu mengangkut ratusan alat berat dan dikawal\npasukan militer. \nItulah rombongan pertama dari 2.000 ekskavator yang datang ke Tanah Papua dalam Proyek Strategis Nasional untuk produksi pangan\, energi biodiesel sawit\, dan bioetanol tebu. \nLalu\, bagaimana nasib kehidupan mereka setelah datangnya proyek-proyek tersebut? \nYuk\, nobar film “Pesta Babi” untuk tahu bagaimana relasi kepentingan industri bioenergi multinasional dengan proyek-proyek pemerintah Indonesia yang berkedok “lumbung pangan” selama tiga periode presiden.
URL:https://pestamedia.id/event/screening-film-pesta-babi/
LOCATION:Teater Wahyu Sihombing
CATEGORIES:Pemutaran Film
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260412T110000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260412T123000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T180216Z
LAST-MODIFIED:20260408T201129Z
UID:214-1775991600-1775997000@pestamedia.id
SUMMARY:Koridor yang Terputus: Gajah Sumatera Tanggung Jawab Siapa?
DESCRIPTION:Geopix membawa isu penyelamatan Gajah Sumatera melalui booth interaktif bertajuk “Gajah vs Kawat Listrik”. Pengunjung dapat merasakan langsung bagaimana ruang hidup gajah semakin terfragmentasi akibat ekspansi industri dan pemasangan pagar listrik yang memicu konflik manusia-satwa liar. Booth akan diisi visual investigatif\, peta konflik\, instalasi simbolik\, audio lapangan\, hingga ruang aksi publik untuk menghadirkan pengalaman yang kuat\, emosional\, sekaligus berbasis data guna membuka diskusi soalkrisis ekologis yang tengah berlangsung.  \nGeopix juga menggelar talkshow “Koridor yang Terputus: Gajah Sumatera\, Tanggung Jawab Siapa?” sebagai ruang dialog lintas perspektif antara jurnalis\, peneliti\, pegiat konservasi\, dan publik. Diskusi ini membedah akar persoalan kerusakan habitat\, peran industri dan kebijakan\, serta pentingnya jurnalisme lingkungan dalam mengawal isu konservasi. Geopix ingin mendorong lahirnya kesadaran bersama bahwa penyelamatan gajah bukan hanya isu satwa liar\, tetapi juga tentang masa depan ekosistem dan tanggung jawab bersama.  \n  \nNarasumber: \n\nAnnisa Rahmawati\, Senior Wildlife Campaigner/Co-Director Geopix\nDonny Gunaryadi – Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI)\nAryo Bhawono – Jurnalis Betahita\n\n  \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/koridor-yang-terputus-gajah-sumatera-tanggung-jawab-siapa/
LOCATION:Promenade
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260412T100000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260412T233000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T175814Z
LAST-MODIFIED:20260408T202003Z
UID:209-1775988000-1776036600@pestamedia.id
SUMMARY:Babak Belur Industri Media: Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan
DESCRIPTION:Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara radikal cara informasi diproduksi dan didistribusikan. Platform media sosial memungkinkan siapapun membuat dan menyebarkan informasi secara instan kepada publik. Di satu sisi\, situasi ini memperluas partisipasi publik dalam ekosistem informasi. Namun di sisi lain\, derasnya arus informasi yang tidak selalu terverifikasi memunculkan pertanyaan mendasar: masihkah kerja jurnalistik relevan di tengah banjir informasi yang diproduksi oleh semua orang? \nTalkshow ini berangkat dari kebutuhan untuk menegaskan kembali peran jurnalisme sebagai praktik profesional yang bekerja dalam koridor etik\, verifikasi\, dan akuntabilitas publik. Berbeda dengan pembuat konten pada umumnya\, wartawan menjalankan proses kerja yang menuntut kehadiran langsung di lapangan\, menjangkau berbagai wilayah\, bertemu dengan warga\, pemerintah\, dan berbagai pemangku kepentingan dalam suatu isu. Proses ini membutuhkan waktu\, biaya\, serta kapasitas profesional yang tidak sedikit\, tetapi menjadi pondasi penting bagi produksi informasi yang dapat dipercaya. \nRelevansi jurnalisme juga terletak pada seperangkat keahlian yang semakin kompleks. Selain peliputan langsung\, jurnalis dituntut menguasai pengolahan data\, penelusuran dokumen publik\, hingga metode jurnalisme data dan open-source intelligence (OSINT). Kemampuan ini memungkinkan temuan lapangan dan data terbuka diolah menjadi laporan yang komprehensif\, terverifikasi\, dan memberi konteks yang lebih utuh bagi publik. \nNamun kualitas dan independensi kerja jurnalistik tidak dapat dilepaskan dari keberlangsungan industri media itu sendiri. Saat ini\, media menghadapi berbagai tekanan serius: disrupsi model bisnis\, dominasi platform digital\, ketergantungan pada belanja iklan\, termasuk dari pemerintah dan BUMN\, hingga munculnya kecerdasan buatan (AI) yang semakin mengubah ekosistem produksi informasi. Tantangan lain juga datang dari menjamurnya kreator konten dan fenomena homeless media\, yang beroperasi di luar struktur redaksi dan standar etik jurnalistik. \nPadahal\, media yang sehat secara bisnis merupakan salah satu pondasi penting bagi kehidupan demokrasi. Pers yang independen berperan dalam memastikan transparansi\, mengawasi kekuasaan\, serta menyediakan informasi yang akurat bagi publik untuk mengambil keputusan. \nKarena itu\, diperlukan komitmen pemerintah untuk menghadirkan regulasi yang tidak hanya bersifat jangka pendek atau berbasis kerjasama iklan\, melainkan mampu menciptakan iklim usaha media yang berkelanjutan sekaligus melindungi kebebasan pers.  \nMelalui talkshow ini\, para pembicara dari kalangan jurnalis\, pelaku industri media\, jurnalisme data\, serta perwakilan pemerintah akan mendiskusikan kembali relevansi jurnalisme di era disrupsi informasi\, serta merumuskan langkah bersama untuk menjaga keberlanjutan dan independensi pers di Indonesia. \n  \nNarasumber: Wahyu Dhyatmika (AMSI)\, Abdul Manan (Dewan Pers)\, Luviana Ariyanti (Konde) \n  \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/babak-belur-industri-media-masihkah-jurnalisme-dibutuhkan/
LOCATION:Teater Wahyu Sihombing
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260411T153000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260411T173000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T175603Z
LAST-MODIFIED:20260408T202613Z
UID:206-1775921400-1775928600@pestamedia.id
SUMMARY:Menuntut Kembali Hak Konstitusional Warga atas Lingkungan yang Sehat Sebagai Jalan Keluar dari Krisis Iklim
DESCRIPTION:Diskusi ini bertujuan menegaskan kembali bahwa hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak konstitusional warga negara\, sekaligus membedah kesenjangan antara jaminan hukum dan praktik di lapangan. Forum ini menjadi ruang dialog kritis untuk mendorong akuntabilitas negara dan tanggung jawab korporasi dalam merespons krisis ekologis. \n  \nPembicara: \nAnis Hidayah\, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI\nAzka Syamila\, Peneliti Biodiversitas Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER)\nJasmine Exa Kamilia\, Peneliti Lingkungan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER)\nWoro Wahyuningtyas\, Tenaga Ahli Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI \nModerator:\nTitis Fitriani\, Energy and Environmental Policy Specialist\, Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) \n  \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/hak-konstitusional-atas-lingkungan-sehat/
LOCATION:Studio Tari Tradisi
CATEGORIES:Workshop
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260411T153000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260411T173000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T175247Z
LAST-MODIFIED:20260408T203202Z
UID:203-1775921400-1775928600@pestamedia.id
SUMMARY:Suara Perempuan Adat\, Masa Depan Hutan Papua. Dari Cerita ke Kemungkinan: Meliput Papua secara Konstruktif
DESCRIPTION:Di berbagai wilayah Papua\, termasuk Distrik Konda\, Sorong Selatan\, hutan bukan hanya ekosistem yang perlu dilindungi\, tetapi juga ruang hidup masyarakat adat\, tempat perempuan menjaga pangan\, pengetahuan\, dan keberlanjutan komunitas. Namun\, tekanan dari ekspansi industri ekstraktif\, krisis iklim\, serta belum tuntasnya pengakuan hutan adat membuat ruang hidup ini semakin rentan. \nPendekatan rights-based conservation oleh Konservasi Indonesia menekankan bahwa upaya konservasi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak masyarakat adat\, termasuk hak atas tanah\, partisipasi\, dan pengetahuan lokal. \nBerbagai liputan tentang Papua selama ini banyak menyoroti ketidakadilan\, konflik\, dan eksploitasi terhadap masyarakat adat. Upaya ini penting untuk membuka realitas yang kerap tersembunyi. Kita banyak mendengar cerita tentang luka. Tapi kalau kita terus menulis dengan cara yang sama\, apa yang berubah? \nKita tidak berhenti meliput ketidakadilan. Tapi kita juga tidak berhenti di sana.\nCerita yang kita tulis bisa membuka cara baru melihat\, dan kemungkinan baru untuk bertindak. \nDi sisi lain\, perempuan adat Papua memiliki peran penting dalam menjaga hutan sebagai ruang hidup\, baik secara ekologis\, sosial\, maupun kultural. Sayangnya\, suara\, pengetahuan\, dan praktik mereka masih jarang diangkat sebagai bagian dari narasi utama. \nWorkshop ini hadir untuk melengkapi pendekatan peliputan yang sudah ada\, dengan menggabungkan jurnalisme konstruktif dan storytelling berempati. Peserta diajak tidak hanya mengangkat persoalan\, tetapi juga menghadirkan cerita yang menyoroti kekuatan\, praktik bertahan\, dan kemungkinan masa depan dari masyarakat adat\, khususnya perempuan. \nWorkshop ini hadir sebagai ruang untuk menjembatani praktik konservasi berbasis hak dengan produksi narasi yang adil\, empatik\, dan kontekstual\, khususnya dengan mengangkat suara perempuan adat sebagai penjaga hutan dan ketahanan pangan.  \n  \nPembicara: \n\nMarice Sianggo\, tokoh perempuan adat sub-suku Nakna\, Distrik Konda\, Sorong Selatan\nFitri Hasibuan\, Vice President Program Konservasi Indonesia\nMargareth S. Aritonang\, Jurnalis Investigasi \n\n  \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/suara-perempuan-adat-masa-depan-hutan-papua/
LOCATION:Promenade
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260411T140000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260411T153000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T175119Z
LAST-MODIFIED:20260408T203435Z
UID:200-1775916000-1775921400@pestamedia.id
SUMMARY:Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Menuju Sistem Zero Waste
DESCRIPTION:Persoalan sampah di Indonesia semakin mendesak. Peningkatan timbulan sampah\, keterbatasan kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA)\, serta rendahnya tingkat pemilahan dan pengurangan sampah dari sumber masih menjadi tantangan utama dalam sistem pengelolaan sampah nasional. \nDi tingkat daerah\, pengelolaan sampah juga masih menghadapi persoalan mendasar pada aspek tata kelola\, perencanaan\, dan penganggaran. Belanja persampahan di banyak daerah masih didominasi oleh biaya operasional pengangkutan dan pengelolaan akhir\, sementara alokasi untuk program pengurangan sampah\, pemilahan di sumber\, serta pengolahan organik masih sangat terbatas. Kondisi ini membuat transformasi menuju sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan menjadi sulit tercapai. \nDalam beberapa tahun terakhir\, berbagai pendekatan teknologi pengolahan sampah di hilir juga semakin didorong sebagai solusi untuk mengurangi timbunan sampah\, termasuk pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan skema Waste to Energy (WtE). Pendekatan ini dipromosikan sebagai solusi pragmatis untuk mengurangi beban TPA dan mendukung kebutuhan energi. \nNamun demikian\, AZWI menilai bahwa pendekatan tersebut berpotensi mengalihkan fokus dari strategi yang lebih mendasar\, yaitu pengurangan sampah dari sumber\, peningkatan daur ulang\, serta penguatan sistem pengelolaan sampah yang berkeadilan dan berkelanjutan. Tanpa perbaikan tata kelola\, sistem pemilahan\, serta kebijakan pengurangan sampah\, solusi teknologi di hilir berisiko hanya menjadi jalan pintas yang tidak menyelesaikan akar persoalan. \nDi sisi lain\, media dan jurnalisme independen memiliki peran penting dalam mengawal isu lingkungan dan kebijakan publik\, termasuk dalam membingkai diskursus mengenai pengelolaan sampah secara kritis\, berbasis data\, dan berpihak pada kepentingan lingkungan jangka panjang. \nMelihat kondisi tersebut\, Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyelenggarakan Talkshow dalam rangkaian Pesta Media 2026 untuk membuka ruang dialog antara gerakan masyarakat sipil\, jurnalis\, dan publik mengenai arah kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia\, khususnya terkait penguatan tata kelola daerah serta transformasi menuju sistem zero waste. \nNarasumber: \n\nGreenpeace Indonesia (Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia\, Ibar Akbar)\nAsosiasi Guna Ulang Indonesia (AGUNI) (Kumala Susanto\, Founding Member AGUNI)\nAJI Jakarta\nDLH Jakarta (Kepala Dinas LH DKI Jakarta\, Asep Kuswanto)\n\nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/transformasi-pengelolaan-daerah-menuju-zero-waste/
LOCATION:Promenade
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260411T140000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260411T153000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T173912Z
LAST-MODIFIED:20260408T203827Z
UID:197-1775916000-1775921400@pestamedia.id
SUMMARY:Terlena Ringkasan Berita Hasil AI: Apakah Berita di Situs Bakal Tetap Laku?
DESCRIPTION:Akal Imitasi (AI) mengindikasikan dampaknya pada tingkat keterbacaan media. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan media yang akan menjadi semakin payah\, setelah terpukul penurunan jumlah iklan dan kehilangan audiens karena media sosial. Di Inggris\, sejumlah media melaporkan dugaan penurunan jumlah audiens yang masuk ke situs mereka\, setelah kemunculan Google AI overview. Lebih jauh hal ini mendorong sejumlah organisasi melayangkan aduan ke lembaga pengawas kompetisi Inggris karena dampak yang diakibatkan Google AI overviews. Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia? \nNarasumber: \n\nIka Idris\, Co-Director & Co-Founder\, Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia\nCitra Dyah\, Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia\n\nModerator: Nuran Wibisono \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/terlena-ringkasan-berita-hasil-ai-apakah-berita-di-situs-bakal-tetap-laku/
LOCATION:Promenade
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260411T123000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260411T143000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T172831Z
LAST-MODIFIED:20260408T214516Z
UID:187-1775910600-1775917800@pestamedia.id
SUMMARY:10 tahun Perjalanan YIARI Mengungkap dan Melawan Perdagangan Ilegal Kukang di Indonesia
DESCRIPTION:Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas dengan kekayaan fauna yang luar biasa. Namun\, keanekaragaman ini menghadapi ancaman serius\, salah satunya adalah perdagangan ilegal satwa liar (PISL). Kukang (Nycticebus spp.)\, sebagai primata nokturnal endemik Indonesia\, menjadi salah satu korban utama dari praktik ini. Meskipun dilindungi oleh hukum nasional dan terdaftar dalam Appendix I CITES\, kukang tetap menjadi objek perdagangan sebagai hewan peliharaan eksotik.  \nYIARI melalui laporan yang berjudul Keluar dari Bayang Bayang berhasil mendokumentasikan tren menurun perdagangan kukang sebagai hasil dari implementasi pendekatan holistik yang mencakup penegakan hukum\, penyediaan pusat rehabilitasi\, serta edukasi publik. Laporan ini merupakan hasil dari pemantauan selama lebih dari satu dekade dan menyajikan data komprehensif tentang dinamika\, pelaku\, serta dampak intervensi terhadap perdagangan kukang di Indonesia.  \nGuna memperluas dampak dari laporan ini\, kegiatan diseminasi penting diselenggarakan sebagai sarana untuk menggaungkan temuan strategis agar dapat diadopsi secara luas oleh para pemangku kepentingan lintas sektor. Mengusung tema “Keluar dari Bayang-bayang: Strategi Kolaboratif Menghentikan Perdagangan Kukang”\, kegiatan ini merefleksikan urgensi untuk menarik isu perdagangan ilegal dari ranah tersembunyi ke pusat perhatian publik\, sekaligus menegaskan bahwa solusi tunggal tidaklah cukup; diperlukan pendekatan kolektif yang terkoordinasi secara presisi demi mengakhiri praktik ini selamanya.  \n  \nNarasumber:⁠ \nRudianto Saragih Napitu\, S.Si\, M.Si (Direktur Penindakan Pidana Kehutanan\, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum\, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia) \nDr. Ahmad Munawir\, S.Hut.\, M.Si (Direktur Konservasi Spesies dan Genetik\, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem\, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia) \nFarwiza Farhan (Aktivis Lingkungan) \nNani Afrida (Ketua Umum AJI Indonesia) \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/diseminasi-buku-mengungkap-dan-melawan-perdagangan-ilegal-kukang-indonesia/
LOCATION:Teater Wahyu Sihombing
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260411T123000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260411T134500
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T173129Z
LAST-MODIFIED:20260408T205157Z
UID:189-1775910600-1775915100@pestamedia.id
SUMMARY:Ketergantungan Batubara dan Tantangan Transformasi Ekonomi Daerah
DESCRIPTION:Dalam beberapa tahun terakhir\, produksi batubara Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dan bahkan mencetak rekor baru. Produksi mencapai sekitar 775\,2 juta ton pada tahun 2023 dan meningkat menjadi sekitar 836 juta ton pada tahun 2024. Peningkatan ini didorong oleh relatif stabilnya harga batubara internasional serta tingginya permintaan ekspor dari negara-negara konsumen utama seperti Tiongkok dan India. Dengan lebih dari 60 persen produksi batubara Indonesia ditujukan untuk pasar ekspor\, sektor ini menjadi salah satu penopang penting penerimaan negara sekaligus ekonomi daerah penghasil batubara (Kompas\, 2025). \nNamun\, dinamika pasar global mulai menunjukkan perubahan sejak awal tahun 2025. Harga batubara internasional mengalami penurunan dan bahkan sempat berada di bawah 100 dolar Amerika Serikat per ton. Kondisi ini dipengaruhi oleh kebijakan negara konsumen utama seperti Tiongkok dan India yang meningkatkan produksi batubara domestik mereka untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Perubahan strategi energi negara-negara tersebut memberi tekanan terhadap negara pengekspor batubara\, termasuk Indonesia. \nDi sisi lain\, kebijakan pengurangan kuota produksi juga menimbulkan implikasi bagi negara-negara Asia yang selama ini sangat bergantung pada impor batubara dari Indonesia\, seperti Filipina\, Bangladesh\, dan Vietnam. Penurunan pasokan dari Indonesia berpotensi menimbulkan tekanan pada harga dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi di negara-negara tersebut (Kontan\, 2026). Meski demikian\, dampak yang muncul tidak serta-merta berupa gangguan listrik secara langsung\, melainkan lebih pada penyesuaian harga energi dan strategi pengadaan energi mereka. \nSituasi ini sekaligus membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai masa depan ekonomi di daerah-daerah penghasil batubara di Indonesia. Ketergantungan ekonomi daerah terhadap sektor pertambangan membuat wilayah-wilayah tersebut rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan perubahan kebijakan energi global. Oleh karena itu\, transformasi ekonomi menjadi isu penting agar daerah-daerah tersebut dapat mempersiapkan diri menghadapi perubahan struktur ekonomi di masa depan. \nIESR menilai dinamika ini dapat menjadi momentum untuk mempercepat transisi energi di kawasan Asia maupun di Indonesia. Diversifikasi bauran energi\, percepatan pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin\, peningkatan efisiensi energi\, serta penguatan sistem jaringan listrik dan penyimpanan energi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan energi. Ketergantungan pada satu sumber energi atau satu negara pemasok berpotensi menimbulkan risiko jangka panjang. \nBagi Indonesia\, khususnya daerah penghasil batubara\, transformasi ekonomi tidak hanya terkait dengan pengurangan produksi komoditas\, tetapi juga dengan bagaimana menciptakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan. Pengembangan industri energi terbarukan\, hilirisasi industri\, penguatan sektor ekonomi lokal\, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari proses tersebut (IESR\, 2023).  \nOleh karena itu\, diskusi tematik mengenai transformasi ekonomi di daerah penghasil batubara menjadi sangat relevan untuk mendorong dialog antara pemerintah\, pelaku industri\, akademisi\, dan masyarakat sipil. Diskusi ini diharapkan dapat mengidentifikasi tantangan\, peluang\, serta strategi kebijakan yang diperlukan agar proses transformasi ekonomi dapat berjalan secara adil\, berkelanjutan\, dan mampu menjaga kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil batubara. \n  \nNarasumber: \nAryanto Nugroho (Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia) \nSuraya Abdul Wahab Affif (Dosen/Peneliti Senior\, Departemen Antropologi\, FISIP Universitas Indonesia) \nMartha Jesica Solomasi Mendrofa (Manajer Riset Kebijakan dan Transisi Berkeadilan\, IESR). \n  \nModerator: \nDewi Nurita (AJI Jakarta) \n  \nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/ketergantungan-batubara-dan-tantangan-transformasi-ekonomi-daerah/
LOCATION:Studio Tari Tradisi
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260411T120000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260411T133000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T173506Z
LAST-MODIFIED:20260408T204351Z
UID:193-1775908800-1775914200@pestamedia.id
SUMMARY:The Power of Storytelling in Personal Branding
DESCRIPTION:
URL:https://pestamedia.id/event/personal-branding-jurnalis/
LOCATION:Promenade
CATEGORIES:Workshop
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20260411T100000
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20260411T113000
DTSTAMP:20260416T121424
CREATED:20260405T170313Z
LAST-MODIFIED:20260408T214814Z
UID:178-1775901600-1775907000@pestamedia.id
SUMMARY:Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan
DESCRIPTION:Krisis iklim bukan sekadar fenomena sains tentang kenaikan suhu bumi atau mencairnya es di kutub; ia adalah krisis kemanusiaan dan keadilan sosial yang berlapis. Di tengah narasi besar mengenai kebijakan energi dan target karbon global\, sering kali terdapat suara-suara yang terabaikan di akar rumput. Kelompok rentan—termasuk perempuan\, masyarakat adat\, penyandang disabilitas\, dan anak-anak—adalah pihak yang paling pertama dan paling dalam merasakan dampak kerusakan lingkungan\, namun ironisnya\, suara mereka paling jarang muncul di halaman depan media massa. \nDalam praktiknya\, jurnalis perempuan sering kali berada di garis depan dalam melaporkan dampak krisis lingkungan yang bersinggungan dengan isu-isu sosial. Mereka mendokumentasikan bagaimana hilangnya sumber daya alam mereduksi hak-hak dasar\, mengancam kedaulatan pangan\, hingga memicu konflik agraria yang berdampak pada struktur keluarga dan komunitas. Meski demikian\, jurnalis yang meliput isu lingkungan di lapangan kerap menghadapi tantangan berlapis\, mulai dari risiko keamanan fisik di wilayah konflik hingga hambatan struktural dalam ruang redaksi. \nSelain itu\, jurnalis perempuan yang meliput isu lingkungan juga menghadapi tantangan ganda: risiko keamanan di lapangan saat berhadapan dengan konflik agraria\, serta beban domestik dan stigma yang masih melekat di industri media. Oleh karena itu\, diperlukan sebuah ruang refleksi untuk mendiskusikan bagaimana jurnalisme dapat menjadi alat advokasi yang sensitif gender dan inklusif bagi kelompok marjinal. \nTalkshow ini hadir sebagai bagian dari rangkaian acara Pesta Media AJI Jakarta 2026. Pesta Media kali ini mengambil peran aktif dalam mengarusutamakan isu lingkungan. Melalui diskusi ini\, AJI Jakarta berkomitmen untuk memperkuat solidaritas antar-jurnalis\, meningkatkan kualitas liputan lingkungan yang berdampak\, serta memastikan bahwa kelompok rentan tidak lagi hanya menjadi objek berita\, melainkan subjek yang suaranya didengar secara utuh. \nTujuan \n\nBerbagi pengalaman “di balik layar” jurnalis perempuan saat meliput isu lingkungan\nMendorong narasi media yang lebih inklusif dan sensitif gender dalam isu lingkungan.\n\nNarasumber \n\nNany Afrida\, Ketua AJI Indonesia\nSapariah Saturi\, Managing Editor Mongabay Indonesia\nEvi Mariani\, Project Multatuli \n\nTautan Registrasi
URL:https://pestamedia.id/event/lensa-terpinggirkan-suara-jurnalis-perempuan-dalam-krisis-iklim-dan-kelompok-rentan/
LOCATION:Teater Wahyu Sihombing
CATEGORIES:Talkshow
END:VEVENT
END:VCALENDAR