
Jakarta, 12 April 2026 – Isu transisi iklim dan energi menjadi salah satu topik penting dan sangat berdampak terhadap kelangsungan hidup di negeri ini. Berbagai inisiasi dan solusi seperti energi bersih, pembiayaan iklim, hingga inovasi hijau, juga kerap digaungkan guna mencegah dampak dari krisis iklim yang kian mengancam.
Namun, solusi-solusi seperti itu seringkali digambarkan sebagai hal yang teknis, kompleks, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika diceritakan dengan baik, sebetulnya hal tersebut bisa menjadi kisah manusia yang kuat tentang inovasi dan wirausahawan iklim yang mendorong perubahan.
Pendekatan pelaporan seperti itu menjadi topik yang dibahas dalam Pesta Media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (12/4/2026). AJI Jakarta didukung Kemitraan untuk Iklim, Energi Terbarukan dan Infrastruktur Australia-Indonesia (KINETIK) mengadakan sesi diskusi “Kisah Perubahan: Bagaimana Jurnalisme Solusi Menghidupkan Transisi Energi Indonesia”.
Sesi ini menyatukan jurnalis, editor, dan pemimpin program pemenang penghargaan Media KINETIK yakni Dhana Kencana dan Arifin Alamudi dari IDN Times, serta Meidella Syahni dari Mongabay. Mereka mengulas dan menerjemahkan isu transisi energi yang kompleks menjadi penceritaan yang menarik, berdampak, dan mudah diakses.
Amron Hamdi, Manajer Komunikasi KINETIK, Amron Hamdi mengatakan transisi Indonesia menuju ekonomi rendah karbon tidak hanya bergantung pada teknologi dan investasi, tetapi juga pada bagaimana cerita tersebut disampaikan.
“Melalui jurnalisme, kita bisa membuka perspektif baru, memperkuat pemahaman publik, dan mendorong perubahan yang lebih inklusif,” kata Amron.
Dhana Kencana,Jurnalis dari IDN Times yang juga juri KINETIK NEX Journalism Training and Media Awards, Dhana Kencana, mengatakan praktik-praktik baik tentang energi bersih perlu didekatkan dengan kehidupan masyarakat. Sehingga isu tersebut bisa dipahami secara utuh.
“Jurnalisme solusi itu pendekatan kita. Ini bukan advertorial, memang perlu ada human centre di situ. Kita menguji respons, misalnya ini alga jalan enggak, bagaimana resistensi dengan lingkungan sekitar. Jadi solusi-solusi yang timbul itu menambah pengayaan dan juga mempertahankan akurasi. Sehingga jurnalisme solusi itu tetap kritis, tetapi juga berdasarkan data dan bukti. Jurnalisme solutif ini menguji best practice itu jalan atau tidak,” kata Dhana.

Praktik tersebut juga diulas oleh Meidella Syahni dari Mongabay dan Arifin Alamudi dari IDN Times. Dalam liputan yang didukung KINETIK, Meidella mengangkat topik mikroalga sebagai penangkap karbon dan penyedia pangan. Dia mengangkat inovasi sebuah startup yang mengembangkan mikroalga
“Yang menarik, riset mikroalga itu sejak tahun 80-an dan potensinya sangat besar. Jadi mikroalga bisa untuk bahan bakar, pangan, dan dekarbonisasi,” ujarnya.
Menurut Meidella, dalam setiap isu lingkungan atau transisi energi, selalu ada solusi dan harapan yang bisa diangkat.
“Agak fatigue juga menulis tambang, konflik warga dengan perusahaan, dan data-data transisi energi yang mungkin agak susah membunyikan data itu. Ya kita memang ada di krisis iklim, tetapi kita masih bisa melakukan banyak hal. Ini penting untuk publik,” kata jurnalis yang akrab disapa Della itu.
Arifin Alamudi, jurnalis lain dari IDN Times, mengamini hal tersebut. Menurutnya, media sekarang perlu bertransformasi terhadap berita-berita solutif.
“Berita baik harus dari sesuatu yang baik, karakter pembaca kita juga telah bergeser tidak hanya berita yang problematik,” katanya.
Dalam liputan yang didukung KINETIK, Arifin mengulas mengenai Nusacube yang mampu mensejahterakanmenyejahterakan nelayan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Pada Maret tahun ini, lima jurnalis memenangkan Penghargaan Media KINETIK NEX untuk pelaporan yang mengubah isu iklim yang kompleks menjadi narasi yang menarik dan mudah diakses. Hal ini menunjukkan jurnalisme iklim dapat melampaui bencana dan kebijakan untuk menyoroti solusi, kewirausahaan, dan dampak.
KINETIK ikut berpartisipasi dalam acara Pesta Media AJI Jakarta 2026. Setelah 14 tahun vakum, AJI Jakarta kembali menggelar acara ini dengan mengusung tema “Facing for Future, Collaboration for Our Nature” pada 11-12 April 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara jurnalis, pegiat lingkungan, akademisi, komunitas, serta masyarakat umum untuk mendiskusikan berbagai isu penting yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.
Tiga isu penting yang diangkat kali ini adalah : media, lingkungan hidup, dan kecerdasan buatan (AI), melalui berbagai format acara, mulai dari diskusi, lokakarya, pameran foto, pemutaran film, membuat zine hingga penampilan seni.
***
KINETIK, Kemitraan Australia–Indonesia untuk Iklim, Energi Terbarukan dan Infrastruktur, merupakan inisiatif unggulan yang mendukung transisi Indonesia menuju energi bersih dan pertumbuhan ekonomi hijau. Diluncurkan pada tahun 2024, program ini merupakan komitmen Pemerintah Australia sebesar AUD 200 juta untuk mendukung dekarbonisasi, memperkuat ketahanan energi, serta memperluas akses terhadap pembiayaan iklim. KINETIK juga mendukung pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM) serta mendorong pengembangan infrastruktur energi yang berkelanjutan.
Pesta Media AJI Jakarta 2026 merupakan acara yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI Jakarta) pada tanggal 11-12 April 2026, di Taman Ismail Marzuki, yang memadukan talkshow, lokakarya, pemutaran film, hingga penampilan seni dan budaya. Pesta Media AJI Jakarta menjadi wadah untuk merekatkan kembali kolaborasi lintas sektor dalam memperjuangkan demokrasi. Isu yang diangkat kali ini adalah krisis lingkungan hidup dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai dua isu yang saling berkelindan dan kian menentukan masa depan jurnalisme di Indonesia.

