BERASAL dari Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, Yoris Wutun memulai perjalanan advokasinya sejak usia 15 tahun. Ia terlibat aktif dalam kampanye hak anak dan kesetaraan gender bersama Plan International Indonesia. Plan International merupakan organisasi nirlaba yang memfokuskan gerakannya pada pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan di seluruh dunia.

Bersama aktivis yang tergabung di Plan International, Yoris punya cita-cita sejak remaja. Cita-cita itu berangkat dari keresahannya melihat berbagai masalah yang terjadi di tempat asalnya, Desa Paubokol, Kecamatan Nubatukan. Yoris ingin menciptakan dunia yang adil dan memastikan anak-anak—terutama perempuan—bebas dari kemiskinan, kekerasan, dan diskriminasi. 

Satu keyakinan Yoris untuk memulai langkah itu: setiap suara, sekecil apa pun, layak didengar. Tak hanya persoalan kesetaraan gender, Yoris mulai melihat berbagai masalah di lingkungan sekitarnya berkelindan dengan isu-isu pemenuhan hak asasi. Di antaranya krisis iklim dan pendidikan. 

Di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Amerika Serikat, pada 2022, alumnus Sekolah Tinggi Hukum Indonesia ini pernah berbicara masalah pendidikan di masa darurat Covid-19. Saat itu usianya 21 tahun. Ia terlibat dalam Global Feminist Coalition for Gender Transformative Education.

Ia mewakili Indonesia dan terpilih sebagai anggota Global Youth Panel atau panelis muda Plan Internasional Inggris. Forum itu mempertemukan Yoris dengan delegasi anak muda dari seluruh dunia, seperti  Ekuador, Lebanon, Malawi, Mali, Zimbabwe, Amerika Serikat, dan Inggris.

Bagi Yoris, peran kaum muda penting untuk menjadi jembatan penting yang menghubungkan berbagai persoalan tersebut dalam konteks lokal maupun global. Selain advokasi, anak dari orang tua bernama John Heribertus Rea dan Maria Yasinta Siba itu menggunakan film dokumenter sebagai medium bercerita. Melalui karya visual, ia merekam realitas di lapangan tentang ketimpangan, harapan, dan perubahan sekaligus menjadikannya alat kampanye yang kuat.