Jakarta – Konservasi burung dan satwa masih menjadi tantangan di Indonesia, negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Wartawan pun didorong berkontribusi melalui pemberitaan, salah satunya dengan cara yang sederhana, yaitu mobile journalism.

Isu ini menjadi topik utama dalam “Workshop Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati bagi Media Melalui Mobile Journalism” yang digelar Burung Indonesia dalam rangkaian Pesta Media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Minggu (12/4).

Angga Yoga, Terrestrial Program Specialist Burung Indonesia, mengatakan bahwa keberadaan burung sangat penting bagi ekosistem, seperti untuk pengendalian hama hingga pembersihan lingkungan. Ketika ekosistem rusak, maka kehidupan akan terdampak.

Dia mengambil contoh peristiwa The Great Chinese Famine, yaitu ketika China melancarkan kampanye pembasmian burung gereja pada 1959-1962. Akibat kampanye itu, populasi burung berkurang, yang berpengaruh pada proses panen dan akhirnya menimbulkan kelaparan.

“Begitulah pentingnya peran burung dalam kehidupan. Jika tidak dilestarikan, bahkan dibunuh, bisa sampai bikin kelaparan,” ujar Angga.

Indonesia sendiri memiliki 1.834 spesies burung, tertinggi di Asia. Dari keseluruhan angka itu, 538 diantaranya merupakan spesies endemik, atau hanya ada di Indonesia. Namun ternyata, 159 spesies di antaranya terancam punah secara global. 

Untuk itu, diperlukan upaya keras untuk melakukan konservasi burung. Menurut Angga, konservasi burung ini harus berbasis masyarakat dan dilakukan secara inklusif. “Kenapa? Pertama, daerah di Indonesia sangat banyak dan masing-masing punya budaya yang berbeda. Cara mereka melakukan konservasi pun berbeda-beda, tidak bisa masyarakat dipaksa melakukan konservasi ala Barat,” ucapnya.

Selain itu, konservasi juga harus memperhatikan hak dasar manusia untuk hidup dan menentukan arah pembangunan. 

Angga kemudian menceritakan pengalamannya melakukan konservasi berbasis masyarakat di Sangihe. Ia tinggal bersama warga dan mengenal karakteristik mereka.

“Saat mereka sudah merasa terlibat, justru mereka sendiri yang akan melaporkan dan bergerak kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan upaya konservasi, dan mereka jadi aktif melakukan konservasi sendiri,” tuturnya.

“Dampak konservasi akan kita dapatkan ketika kita melakukan konservasi yang tepat. Setiap budaya masyarakat Indonesia sudah punya kearifan lokal yang tujuan akhirnya sebenarnya konservasi.”

Andi Muhyiddin, jurnalis dan praktisi mobile journalism, mengatakan bahwa sebenarnya ada budaya lama di beberapa daerah Indonesia yang masih belum berpihak pada konservasi keanekaragaman hayati, seperti kebiasaan masyarakat memelihara burung di dalam sangkar.

Namun, masyarakat dan jurnalis seharusnya bisa mengubah narasi dengan cara membahas praktik-praktik yang tak sesuai dengan upaya konservasi. Salah satu cara yang mudah adalah dengan mobile journalism.

“Kita punya senjata ponsel. Dengan visual, masyarakat bisa tergerak. Konten visual seperti ini juga bisa menjadi tekanan publik,” tutur Andi.

Ponsel memang memiliki berbagai keterbatasan, seperti kualitas kamera yang tidak sebaik kamera profesional. Namun, kata Andi, yang paling penting dalam mobile journalism adalah narasi.

Praktisi jurnalisme multimedia, Tri Wahyuni, mengakui bahwa keanekaragaman hayati memang merupakan topik dengan segmentasi sangat khusus, tapi dengan mobile journalism, wartawan sebenarnya bisa membuatnya lebih populer.

Tri membahas berbagai contoh di mana konten dengan kualitas gambar yang tidak terlalu tinggi ternyata justru bisa viral dan menarik perhatian banyak orang.

“Banyak yang bertanya, kalau tidak punya alat yang mumpuni bagaimana? Bisa, yang penting kita tahu cara mengemasnya,” kata Tri.

Andi sepakat. Menurutnya, setiap jurnalis bisa mendukung upaya konservasi melalui mobile journalism, asal tetap memperhatikan kaidah-kaidah jurnalistik. “Kamu bukan sekadar pengamat. Kamu adalah penjaga cerita alam,” katanya. “Mulai hari ini, setiap rekaman kamu adalah bagian dari konservasi. Smartphone kamu bisa jadi alat dokumentasi dan alat perubahan.”

Tentang 

Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) adalah organisasi konservasi yang didirikan pada 15 Juli 2002 dengan tujuan melestarikan burung liar beserta habitatnya di Indonesia. Organisasi ini merupakan bagian dari kemitraan global BirdLife International dan telah menjalankan berbagai program konservasi di banyak wilayah, seperti Sumba, Halmahera, hingga Sulawesi dan Papua.

Pesta Media AJI Jakarta 2026 merupakan acara yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI Jakarta) pada tanggal 11-12 April 2026, di Taman Ismail Marzuki, yang memadukan talkshow, lokakarya, pemutaran film, hingga penampilan seni dan budaya. Pesta Media AJI Jakarta menjadi wadah untuk merekatkan kembali kolaborasi lintas sektor dalam memperjuangkan demokrasi. Isu yang diangkat kali ini adalah krisis lingkungan hidup dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai dua isu yang saling berkelindan dan kian menentukan masa depan jurnalisme di Indonesia.

Narahubung: 

Muhammad Meisa Communication & Institutional Development Coordinator Burung Indonesia 0812-9519-2120