- This event has passed.
Suara Perempuan Adat, Masa Depan Hutan Papua. Dari Cerita ke Kemungkinan: Meliput Papua secara Konstruktif
Di berbagai wilayah Papua, termasuk Distrik Konda, Sorong Selatan, hutan bukan hanya ekosistem yang perlu dilindungi, tetapi juga ruang hidup masyarakat adat, tempat perempuan menjaga pangan, pengetahuan, dan keberlanjutan komunitas. Namun, tekanan dari ekspansi industri ekstraktif, krisis iklim, serta belum tuntasnya pengakuan hutan adat membuat ruang hidup ini semakin rentan.
Pendekatan rights-based conservation oleh Konservasi Indonesia menekankan bahwa upaya konservasi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak masyarakat adat, termasuk hak atas tanah, partisipasi, dan pengetahuan lokal.
Berbagai liputan tentang Papua selama ini banyak menyoroti ketidakadilan, konflik, dan eksploitasi terhadap masyarakat adat. Upaya ini penting untuk membuka realitas yang kerap tersembunyi. Kita banyak mendengar cerita tentang luka. Tapi kalau kita terus menulis dengan cara yang sama, apa yang berubah?
Kita tidak berhenti meliput ketidakadilan. Tapi kita juga tidak berhenti di sana.
Cerita yang kita tulis bisa membuka cara baru melihat, dan kemungkinan baru untuk bertindak.
Di sisi lain, perempuan adat Papua memiliki peran penting dalam menjaga hutan sebagai ruang hidup, baik secara ekologis, sosial, maupun kultural. Sayangnya, suara, pengetahuan, dan praktik mereka masih jarang diangkat sebagai bagian dari narasi utama.
Workshop ini hadir untuk melengkapi pendekatan peliputan yang sudah ada, dengan menggabungkan jurnalisme konstruktif dan storytelling berempati. Peserta diajak tidak hanya mengangkat persoalan, tetapi juga menghadirkan cerita yang menyoroti kekuatan, praktik bertahan, dan kemungkinan masa depan dari masyarakat adat, khususnya perempuan.
Workshop ini hadir sebagai ruang untuk menjembatani praktik konservasi berbasis hak dengan produksi narasi yang adil, empatik, dan kontekstual, khususnya dengan mengangkat suara perempuan adat sebagai penjaga hutan dan ketahanan pangan.
Pembicara:
- Marice Sianggo, tokoh perempuan adat sub-suku Nakna, Distrik Konda, Sorong Selatan
- Fitri Hasibuan, Vice President Program Konservasi Indonesia
- Margareth S. Aritonang, Jurnalis Investigasi
